Sabtu, 09 Februari 2013

Hati-Hati, Jajanan Anak Terancam Zat Berbahaya

mediamrs.com
Waspadai jajanan anak/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Bu, cobalah untuk lebih waspada jika anak Anda hobi jajan. Ternyata, menurut dr H Tb Rachmat Sentika SpA, MARS, anggota tim ahli Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) saat ini, diperkirakan banyak jajanan di sekolah yang menggunakan bahan pewarna atau pengawet kimia sebagai additif.
Hal itu dilakukan dengan tujuan untuk menarik perhatian karena makanan terlihat menarik dan rasanya lebih enak. Padahal, penggunaan bahan kimia tersebut sangat berbahaya bila dikonsumsi. Bahkan, dalam sebuah penelitian di delapan lokasi, terdapat makanan gorengan yang dicampur dengan plastik sedotan. “Alasannya, biar terasa renyah,” katanya.

Menurut Rachmat, mengonsumsi makanan yang mengandung bahan kimia atau pengawet dampaknya baru dirasakan jangka panjang. Untuk jangka pendek biasanya akan mengalami gangguan tenggorokan, seperti batuk, sakit perut, atau pusing. Tetapi, untuk jangka panjang dapat merusak sistem organ tubuh hingga menimbulkan berbagai macam penyakit, termasuk kanker. “Karena itu, perlu ditanamkan pola hidup sehat pada anak sejak dini,” katanya.

Namun, menanamkan pola hidup sehat, termasuk memilih makanan yang sehat dan aman bagi anak, bukanlah pekerjaan mudah. Menurut psikolog Rose Mini Mpsi, hal itu bisa dimulai dari sikap orang tua, guru, atau lingkungan sekitarnya yang memberikan contoh positif. Tanpa dukungan mereka, pola hidup sehat hanya slogan semata dan tidak akan diikuti oleh anak.

Dalam hal ini, orang tua harus mampu menjelaskan dengan benar kepada anak soal makanan yang sehat dan aman. Cara menjelaskannya juga harus disesuaikan dengan usia anak agar mereka mudah memahaminya. Tetapi, sayangnya orang tua atau lingkungan kerap memberikan contoh yang tidak benar. “Jadi, perlu perilaku yang konsisten dari lingkungan,” katanya.

Penanaman nilai positif itu bisa dimulai dari rumah dan berlanjut di sekolah. Sehingga, dalam prosesnya anak akan menya ring dengan sendirinya informasi yang mereka peroleh, termasuk menentukan mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan. “Anak mau melakukan sesuatu bila ada manfaatnya buat mereka. Kalau cuma doktrin, itu tidak bagus,” tutur Rose Mini.

Reporter : Hiru Muhammad
Redaktur : Endah Hapsar
Sumber: republika.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...